TARAKAN, ALINEA62— Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kota Tarakan berlangsung aman, lancar, dan penuh khidmat. Momentum ini sekaligus memperlihatkan kuatnya toleransi antarumat beragama, terutama karena pelaksanaannya berdekatan dengan Hari Raya Idulfitri.
Rangkaian Nyepi diawali dengan ritual Melasti pada 15 Maret 2026, dilanjutkan dengan Tawur Agung Kesanga melalui prosesi pecaruan pada Rabu (18/3/2026). Puncaknya, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian pada Hari Nyepi dengan suasana yang tenang dan penuh perenungan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Tarakan, I Gusti Ngurah Arnata, menyampaikan seluruh rangkaian ibadah berjalan tertib tanpa kendala berarti.
“Pelaksanaan dari awal hingga puncak Nyepi berjalan lancar. Umat dapat beribadah dengan khusyuk, dan situasi di lapangan juga sangat kondusif,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Wakil Ketua Hindu Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tarakan, I Nengah Pariana, menambahkan Nyepi tidak hanya bermakna sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai ajang memperkuat harmoni sosial.
Menurutnya, melalui rangkaian penyucian alam dan diri, umat diajak untuk mengendalikan emosi, menahan keinginan, serta membangun hubungan baik dengan sesama dan lingkungan.
“Nilai yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga keseimbangan dan hidup berdampingan secara harmonis. Itu yang tercermin dalam perayaan Nyepi di Tarakan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tema Nyepi tahun ini yang mengangkat semangat satu dunia, satu keluarga, sebagai ajakan untuk memperkuat persaudaraan lintas agama dan budaya.
Sementara itu, aparat kepolisian turut memastikan kelancaran ibadah dengan melakukan pengamanan di sejumlah titik, termasuk di Pura Agung Giri Jagadnatha, Rabu (18/3/2026).
Kapolsek Tarakan Barat IPTU Muhamadong mengatakan pengamanan dilakukan secara terbuka dan tertutup guna memberikan rasa aman kepada umat Hindu yang menjalankan ibadah.
“Sejak ibadah dimulai hingga selesai, situasi tetap aman dan terkendali. Tidak ada gangguan yang menghambat jalannya perayaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kedekatan waktu antara Nyepi dan Idulfitri justru menjadi momentum memperkuat toleransi di tengah masyarakat.
“Ini menjadi bukti bahwa masyarakat Tarakan mampu menjaga kerukunan. Kita saling menghormati agar masing-masing umat dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang,” katanya.
Dengan suasana yang damai dan penuh saling pengertian, perayaan Nyepi di Tarakan tahun ini menjadi cerminan nyata kehidupan masyarakat yang rukun dalam keberagaman.












Discussion about this post