TARAKAN, ALINEA62 – Penutupan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tarakan membawa dampak besar bagi para relawan. Tak hanya aktivitas pelayanan yang terhenti, sumber penghasilan mereka pun ikut lenyap.
Sebagai informasi, ada tiga dapur SPPG yang operasionalnya dihentikan sementara yakni Juata Laut, Kampung Empat, dan Karang Anyar. Penghentian sementara ini bermula dari keluhan yang sempat viral di masyarakat. Sejumlah penerima manfaat menilai kemasan dan menu yang disajikan tidak sesuai harapan.
Relawan SPPG Kampung Empat, Ananda Dillah Syahieb, mengaku terpukul saat mengetahui tempatnya bekerja harus menghentikan operasional. Ia baru sekitar sebulan bergabung ketika kabar tersebut diterimanya. “Saat saya dengar dapur tutup saya kaget, syok. Otomatis saya kehilangan mata pencarian,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Menurut Dillah, pekerjaan di dapur MBG sangat berarti baginya. Di tengah sulitnya mencari kerja di Tarakan, terlebih dengan latar belakang pendidikan relawan yang mayoritas Sekolah Dasar (SD), kesempatan itu menjadi tumpuan harapan. “Sangat membantu sekali buat saya, apalagi teman-teman yang juga menggantungkan penghasilan di MBG. Biasanya saya bisa membantu perekonomian keluarga, kini tidak lagi,” katanya.
Sejak dapur ditutup, Dillah mengaku belum mendapatkan pekerjaan baru meski sudah berupaya mencari lowongan. Kondisi ini terasa semakin berat karena momen Lebaran semakin dekat. “Sejak dapur tutup penghasilan pun tidak ada, mana mau dekat Lebaran lagi. Bukan saya saja, relawan yang lain juga bingung,” tuturnya.
Kepala SPPG Kampung Empat, Nella Risqa, menyebutkan ada 30 relawan di dapur tersebut yang terdampak langsung penghentian operasional. SPPG sendiri merupakan unit dapur pelaksana program MBG di tingkat daerah yang bertugas menyiapkan dan mendistribusikan makanan bergizi kepada penerima manfaat.
Pembayaran insentif relawan sebelumnya dilakukan setiap dua minggu sekali atau setelah 12 hari kerja, ditransfer langsung ke rekening masing-masing. Sesuai petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN), standar upah relawan sebesar Rp100.000 per hari. Dengan dihentikannya operasional, para relawan kini tidak memiliki pemasukan. “Dampaknya mereka menjadi pengangguran dan tidak mempunyai penghasilan. Apalagi jika ada keluarga yang harus dinafkahi mungkin lebih berat,” jelas Nella.
Ia berharap dapur tersebut dapat segera kembali beroperasi. Saat ini, pihaknya masih melengkapi administrasi dan menunggu keputusan dari pemerintah pusat. Kini, para relawan hanya bisa berharap dapur MBG kembali dibuka agar mereka dapat bekerja dan memperoleh penghasilan seperti sebelumnya.













Discussion about this post