TARAKAN, ALINEA62— Andri Kurniawan tak pernah menuntaskan bangku kuliah. Pendidikan Ilmu Komunikasi yang ditempuhnya di salah satu universitas swasta di Kota Malang, Jawa Timur, terhenti di tengah jalan. Namun keputusan itu justru menjadi titik awal perjalanan hidupnya menuju dunia usaha kuliner.
Lahir di Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan pada 6 Juli 1990, Andri merantau ke Malang usai lulus SMA. Ia mengambil konsentrasi audiovisual dan sempat menjalani perkuliahan seperti mahasiswa lainnya. Namun seiring waktu, minatnya terhadap dunia akademik perlahan memudar.
Memasuki semester tujuh, kegelisahan mulai muncul. Andri menyadari kuliahnya tak kunjung selesai, sementara beban biaya orang tua terus berjalan. Ia pun memilih berhenti sebelum dikeluarkan kampus. “Saya keluar sendiri, bukan DO,” ujar Andri ditemui di warung Sambel Korek miliknya depan Kantor Dinas Sosial, Jalan Teuku Umar, Kelurahan Pamusian, Kecamatan Tarakan Tengah, Sabtu (7/2/2026).
Selama di Malang, Andri mulai akrab dengan dapur. Di kos-kosan, ia dan teman-temannya sering patungan membeli bahan makanan. Andri yang lebih sering memasak, mulai dari ayam, bebek, hingga sambal. Dari kebiasaan sederhana itulah ketertarikannya pada dunia kuliner tumbuh.
Namun masa tersebut juga menjadi fase gelap dalam hidupnya. Ia mengaku sempat terjerumus dalam pergaulan bebas dan minuman keras. Bahkan, ia menyaksikan langsung temannya berurusan dengan polisi. Kondisi itu membuatnya jenuh. “Capek hidup kayak gitu terus. Nggak ke mana-mana,” katanya.
Tahun 2015 menjadi titik balik. Andri memutuskan pulang ke Kalimantan Utara dan memilih Tarakan sebagai tempat memulai usaha. Ia menilai kota ini memiliki pasar yang lebih ramai dan peluang yang lebih besar dibanding kampung halamannya di Bunyu.
Berbekal pengalaman dan belajar memasak di kos, Andri membuka usaha ayam dan bebek dengan sambal korek, jenis sambal pedas yang saat itu belum banyak ditemui di Tarakan. Awal merintis usaha tidak mudah. Ia hanya mengolah tiga ekor ayam dan satu ekor bebek. Pembeli masih sepi, keuntungan tipis, bahkan kerap merugi.
Meski begitu, Andri tetap bertahan dan mengelola usaha secara langsung, mulai dari dapur hingga melayani pelanggan. Promosi dilakukan secara sederhana melalui media sosial dan grup kuliner lokal. Perlahan, Sambel Korek Tarakan mulai dikenal masyarakat dan memiliki pelanggan setia.
Seiring waktu, usaha tersebut terus berkembang. Sambel Korek Tarakan kini semakin dikenal luas dan mampu melayani banyak pelanggan setiap harinya. Usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang yang terlibat di dalamnya.
Bagi Andri, kegagalan menyelesaikan kuliah bukanlah akhir dari segalanya. Ia menilai pengalaman hidup tersebut justru membentuk ketekunan dan keberaniannya dalam berusaha. “Yang penting mau jalan dan konsisten,” ujarnya.
Kisah Andri menunjukkan bahwa jalur menuju keberhasilan tidak selalu sama bagi setiap orang. Di luar bangku kuliah, selalu ada jalan lain yang bisa ditempuh. Selama dijalani dengan kerja keras, kesabaran, dan konsistensi, peluang untuk bangkit dan berhasil tetap terbuka.













Discussion about this post