SEBATIK, ALINEA62 – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Islahul Ummah, Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, menjadi momentum untuk mengajak masyarakat meneladani Rasulullah SAW dalam membangun generasi.
Pesan itu disampaikan Ust. H. Andi Yaqub, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sebatik Barat sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Nunukan, saat memberikan tausiyah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (15/8/2026).
Andi mengatakan, keteladanan Rasulullah SAW dapat menjadi pijakan dalam membangun keluarga, masyarakat hingga kehidupan berbangsa. Menurutnya, pembentukan generasi tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan proses dan kesabaran.
Ia mengajak jamaah menjadikan nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama dalam mendidik anak dan membangun keluarga
“Rasulullah SAW menjadi teladan dalam membangun keluarga, masyarakat hingga negeri. Semua dilakukan secara bertahap dan penuh kesabaran,” ujar Andi dalam tausiyahnya.
Menurutnya, generasi yang kuat harus dipersiapkan sejak usia dini. Pendidikan agama dan pembentukan akhlak perlu dilakukan secara konsisten agar anak-anak memiliki fondasi yang kuat ketika tumbuh dewasa.
Andi juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam membentuk karakter anak. Dari keluarga, nilai agama, akhlak dan kepedulian terhadap sesama dapat ditanamkan sebelum berkembang ke lingkungan masyarakat.
Pesan tersebut sejalan dengan kegiatan Yayasan Muslih Center yang mengembangkan Masjid Islahul Ummah sebagai pusat pembinaan Al-Qur’an di kawasan perbatasan Sebatik.
Dalam kegiatan Maulid Nabi tersebut, sejumlah binaan Yayasan Muslih Center turut tampil, mulai dari PAUD Islam Al Hiro, SD Islam Al Hiro, TPQ Al Hiro hingga kelas lansia mengaji Al Hiro.
Pembinaan tersebut menunjukkan upaya yayasan membangun pendidikan Al-Qur’an lintas generasi, mulai anak usia dini hingga masyarakat lanjut usia.
Tak hanya pembinaan keagamaan, Yayasan Muslih Center juga meluncurkan Tabung Beras Umat. Program tersebut menjadi bentuk kepedulian sosial dengan memanfaatkan masjid sebagai ruang untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ketua Yayasan Muslih Center, Wahyudi, mengatakan program tersebut lahir dari semangat agar keberadaan masjid dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.
“Kami tidak ingin ada jamaah atau masyarakat di sekitar masjid yang kelaparan hanya karena tidak mampu membeli beras,” ujar Wahyudi.
Ia menilai pembangunan umat merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan kesinambungan.
“Kita ingin mencetak peradaban dengan cara yang pelan tetapi pasti, tidak tergesa-gesa tetapi terukur. Kita mulai dari anak usia dini hingga usia lansia,” katanya.
Melalui Masjid Islahul Ummah, Yayasan Muslih Center berharap pembinaan Al-Qur’an dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan untuk menyiapkan generasi yang berakhlak, peduli terhadap sesama dan memiliki fondasi keagamaan yang kuat di wilayah perbatasan.













Discussion about this post