TARAKAN, ALINEA62– Dunia auditor tidak hanya berkutat dengan angka dan laporan keuangan. Ada pula tugas mengenali potensi kecurangan (fraud) yang bisa muncul dalam pengelolaan keuangan maupun kegiatan organisasi.
Hal itu dikenalkan kepada 150 mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (UBT) melalui kegiatan crash course yang digelar bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara), Senin (21/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kerja sama UBT dan BPKP Kaltara. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi tentang antikorupsi, tetapi juga diajak memahami tugas dan fungsi BPKP serta gambaran pekerjaan auditor.
Rektor UBT Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan langsung dari BPKP.
Menurutnya, crash course sengaja dikemas dengan pola yang lebih ringan agar mahasiswa dapat mengikuti materi secara interaktif selama setengah hari.
“Jadi kursus selama setengah hari ini akan memahami persoalan-persoalan penting, termasuk sebenarnya tupoksi dari BPKP yang memang mitra pengawasan khususnya di Kalimantan Utara ini,” kata Yahya.
Dia menilai pemahaman mengenai pengawasan penting diberikan sejak mahasiswa berada di lingkungan kampus. Terlebih, tata kelola keuangan yang baik membutuhkan pengawasan sejak awal.
“Bahwa tata kelola keuangan yang baik dengan melibatkan pengawasan mulai dari awal, itu insyaallah akan menjadi jalan baik untuk sama-sama kita melakukan proses tata kelola yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.
Yahya juga berharap 150 mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menjadi penyambung informasi kepada mahasiswa lainnya.
Dia ingin pengetahuan mengenai BPKP dan pencegahan korupsi tidak berhenti di ruang kegiatan, tetapi berkembang menjadi pemahaman yang lebih luas di lingkungan kampus.
“Saya berharap ini 150 ini nanti akan menjadi agen. Mereka akan bisa menyampaikan ke kawan-kawannya, ‘Oh, BPKP itu ini tupoksinya, begini mekanisme kerjanya, ini yang sudah dilakukan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BPKP Kaltara Sindu Senjaya Aji mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kerja sama dengan UBT.
Menurutnya, BPKP ingin mahasiswa tidak hanya mengenal lembaga tersebut sebagai institusi pengawasan, tetapi juga memahami apa yang dikerjakan auditor.
“Tagline kami kan sebenarnya BPKP itu hadir dan bermanfaat. Nah, karena kami sudah hadir di Kaltara, kami ingin memberikan manfaat untuk Kaltara, jadi untuk semua mitra di sini, termasuk untuk di kampus,” kata Sindu.
Dalam crash course tersebut, mahasiswa akan diajak memahami bagaimana seorang auditor bekerja, termasuk mengenali potensi fraud.
“Ketika rekan-rekan mahasiswa hadir itu bukan sekadar mendengarkan, tapi nanti akan ada sesi seolah-olah kalau jadi auditor itu gimana sih? Bisakah mengenali fraud?” ujarnya.
Sindu mengatakan pengenalan terhadap fraud penting dilakukan sejak dini. Sebab, menurutnya, sejumlah kejadian kecurangan dapat berkaitan dengan ketidakpahaman mengenai bentuk maupun risiko fraud.
Selain itu, BPKP juga memperkenalkan profesi auditor kepada mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan.
Sindu menjelaskan, auditor di BPKP tidak hanya berasal dari bidang ekonomi atau akuntansi. Lulusan teknik, teknologi informasi, hingga bidang lainnya juga dapat berkarier sebagai auditor sesuai kebutuhan dan kompetensinya.
“Di kami itu yang namanya auditor ada yang teknik, ada yang dari TI, ada yang dari segala macam jurusan itu bisa menjadi auditor,” jelasnya.
BPKP Kaltara juga membuka gambaran mengenai peluang mahasiswa untuk bergabung di lingkungan BPKP apabila nantinya terdapat rekrutmen aparatur sipil negara.
“Kalau memang jadi dibuka untuk rekrutmen CPNS, kami akan mulai menerima dengan jumlah yang cukup banyak dan tentunya kami berharap rekan-rekan di UBT ada yang bisa ikut bergabung,” ungkap Sindu.
Kerja sama BPKP dan UBT tidak berhenti pada kegiatan tersebut. Keduanya juga membahas kemungkinan pembekalan bagi mahasiswa sebelum menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Materi mengenai pengawasan dan tata kelola nantinya diharapkan dapat menjadi bekal mahasiswa ketika terjun ke desa dan berinteraksi dengan masyarakat maupun aparatur pemerintahan desa.
“Ini barangkali langkah awal dari kemitraan kita, terutama dengan melibatkan mahasiswa dan kami berharap mudah-mudahan ini semua nanti bisa berkelanjutan,” pungkasnya.








Discussion about this post