TARAKAN, ALINEA62 – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Juata Kerikil di Tarakan disebut sudah penuh meski baru beberapa bulan beroperasi. Kapasitas sel aktif tak lagi mampu menampung lonjakan sampah yang rata-rata mencapai 100 ton per hari.
Fakta itu terungkap saat Komisi III DPRD Tarakan turun langsung meninjau lokasi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Rabu (18/2/2026). Di lapangan, tumpukan sampah terlihat hampir menutup seluruh area sel yang tersedia.
Ketua Komisi III DPRD Tarakan, Randy Ramadhana Erdian, mengatakan persoalan ini tak bisa diselesaikan hanya dengan menambah sel baru. Meski tahun ini sudah dianggarkan pembangunan sel tambahan, ia menilai perlu solusi jangka panjang.
“Lahan TPA sekitar 50 hektare, tapi tidak mungkin semuanya hanya dipakai untuk sistem penimbunan. Harus ada terobosan,” ujarnya.
Salah satu opsi yang didorong adalah pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif pengganti batu bara. Menurut Randy, skema ini bisa menekan volume sampah sekaligus memberi nilai tambah ekonomi.
“Dari estimasi 100 ton sampah per hari, setelah dipilah dan diolah bisa menghasilkan sekitar 20 ton RDF. Informasinya harga jualnya bisa sekitar Rp 300 ribu per ton,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala DLH Tarakan, Andry Rawung, mengungkapkan cepat penuhnya TPA Juata Kerikil memang sudah diprediksi sejak awal. Sel pertama yang dibangun memiliki kapasitas terbatas dan hanya dirancang untuk sekitar enam bulan operasional.
“Sel awal memang relatif kecil, peruntukannya hanya sekitar enam bulan. Dengan volume 100 ton per hari, tentu cepat terisi,” katanya.
Saat ini luas sel eksisting kurang lebih setengah hektare. Tahun ini pemerintah merencanakan penambahan sel baru sekitar satu hektare untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah.
Meski begitu, Andry menegaskan ke depan pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan penimbunan. DLH juga membuka opsi inovasi pengurangan volume sampah, termasuk pengolahan agar residu yang masuk ke TPA bisa ditekan.
“Yang jelas kita berharap sel tambahan segera terealisasi, sambil terus mencari solusi jangka panjang supaya sampah tidak hanya ditumpuk,” tegasnya.










Discussion about this post