TARAKAN, ALINEA62– Perkembangan teknologi dan perubahan tantangan global menuntut generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi, tanpa meninggalkan nilai agama dan kebangsaan. Santri diharapkan tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kecerdasan, kedisiplinan, serta etos kerja yang kuat untuk berkontribusi dalam pembangunan.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Utara (Kaltara), Supa’ad Hadianto, saat menghadiri puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tarakan di Masjid Nur Mubakkirin, Juata Laut, Tarakan Utara, Sabtu (24/10/2026) malam.
Menurut Supa’ad, peringatan Hari Santri bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memahami kembali peran ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa sekaligus merefleksikan tantangan generasi saat ini.
Ia menjelaskan, perjuangan pada masa kemerdekaan dan tantangan yang dihadapi generasi muda sekarang memiliki konteks berbeda. Jika pada 1945 para ulama dan santri bergerak melalui Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan, saat ini perjuangan dilakukan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“ Mengisi kemerdekaan itu bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga harus mempunyai etos dan disiplin kerja yang baik,” kata Supa’ad.
Ia menilai, santri di Kaltara, khususnya Kota Tarakan, perlu membekali diri dengan kemampuan yang relevan dengan perkembangan zaman. Penguasaan ilmu agama perlu berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kecerdasan sosial, serta kemampuan memahami persoalan kebangsaan.
Supa’ad juga mendorong generasi muda belajar dari bangsa lain yang memiliki budaya kerja dan kedisiplinan tinggi. Menurutnya, kedua hal tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing dan mendukung kemajuan Indonesia.
“Kita harus banyak belajar dari bangsa-bangsa lain yang mempunyai etos dan disiplin kerja yang luar biasa. Di samping itu, tentu harus mempunyai etika kebangsaan,” ujarnya.
Selain kemampuan intelektual, ia menekankan pentingnya membangun mental yang kuat dan menanamkan nilai kemanusiaan. Terlebih, perkembangan teknologi yang semakin masif perlu diimbangi dengan karakter dan pemahaman kebangsaan agar generasi muda mampu menggunakan kemajuan tersebut secara bertanggung jawab.
Supa’ad menyebut, semangat perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama, termasuk KH Hasyim Asy’ari melalui Resolusi Jihad, tetap relevan untuk dijadikan inspirasi. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan masa kini.
“Tantangan kita berbeda di tahun 1945 dengan tantangan yang dihadapi oleh anak-anak bangsa pada periode ini,” katanya.
Ia berharap, santri mampu menjadi bagian dari generasi yang berkontribusi nyata bagi masyarakat, baik melalui pendidikan, penguasaan teknologi, penguatan kehidupan sosial, maupun pembangunan bangsa.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 tersebut juga menjadi pengingat pentingnya sinergi ulama, santri, dan pemerintah dalam membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai agama dan kebangsaan.
Supa’ad berharap santri di Kaltara terus meningkatkan kapasitas diri dan memperkuat etos kerja untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.









Discussion about this post