TARAKAN, ALINEA62 – Pembinaan warga binaan tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan dan keterampilan, tetapi juga menyentuh pembentukan kepribadian dan kehidupan spiritual. Hal ini menjadi perhatian Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan melalui program pembinaan kerohanian yang dilaksanakan secara rutin.
Lapas Tarakan menggandeng Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tarakan dalam penyelenggaraan pembinaan kerohanian Islam bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kegiatan tersebut diisi dengan tausyiah Islamiyah dan pendampingan keagamaan yang dilaksanakan setiap pekan.
Program tersebut mengusung konsep pembinaan kerohanian Islam yang inklusif. Selain menjadi bagian dari pemenuhan hak warga binaan dalam menjalankan ibadah, kegiatan ini diarahkan untuk membantu meningkatkan kesadaran beragama serta membentuk perilaku yang lebih baik.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri, mengatakan pembinaan kerohanian merupakan salah satu bagian penting dalam proses pembinaan warga binaan.
“Kegiatan pembinaan kerohanian merupakan program mendasar bagi setiap warga binaan. Tujuan utamanya ialah membentuk perubahan pola perilaku, meningkatkan kualitas iman dan takwa, serta menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujar Jupri.
Menurut dia, pelaksanaan pembinaan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Lapas Tarakan juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kemenag Kota Tarakan dan yayasan keagamaan, untuk mendukung keberlangsungan program tersebut.
Kerja sama dengan Kemenag Kota Tarakan diwujudkan melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS), termasuk dengan melibatkan penyuluh agama Islam dalam kegiatan pembinaan rutin di Lapas Tarakan.
Jupri berharap kolaborasi tersebut dapat terus diperkuat sehingga pembinaan keagamaan bagi warga binaan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi proses reintegrasi mereka setelah menyelesaikan masa pidana.
Pembinaan kerohanian sendiri merupakan bagian dari pembinaan kepribadian narapidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022. Pembinaan tersebut mencakup upaya meningkatkan kesadaran beragama, perubahan perilaku, serta kualitas spiritual warga binaan.
Melalui pendekatan tersebut, Lapas Tarakan berupaya menjadikan masa pembinaan bukan sekadar menjalani hukuman, tetapi juga sebagai ruang bagi warga binaan untuk mempersiapkan diri sebelum kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.













Discussion about this post