SEBATIK, ALINEA62– Dari sebuah sekolah di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, langkah Hikmah Nasution membawanya hingga ke Korea Selatan.
Guru SDN 006 Sebatik Tengah itu mendapat kesempatan mengikuti Program Pertukaran Guru Indonesia-Korea (IKTE) selama tiga bulan. Program tersebut berlangsung hingga 21 November 2026.
Yang membuat kesempatan ini semakin istimewa, Hikmah menjadi satu-satunya peserta dari Kalimantan Utara yang mengikuti program tersebut. Ia bergabung bersama 12 guru dari sejumlah provinsi lain di Indonesia.
Bagi Hikmah, kesempatan itu tidak sekadar menjadi pengalaman belajar di luar negeri. Ada pengetahuan dan praktik pendidikan yang ingin dipelajari untuk kemudian dibawa pulang ke sekolahnya di Sebatik.
Hikmah, yang lahir di Padang Sidempuan pada 13 Juli 1995, sebelumnya harus melewati proses seleksi untuk bisa mengikuti program tersebut.
Kesempatan menjadi satu-satunya perwakilan Kaltara bersama peserta dari provinsi lain menunjukkan bahwa program tersebut menjadi ruang belajar yang mempertemukan guru-guru terpilih dari berbagai daerah.
“Tujuan utama saya adalah belajar secara langsung tentang pendidikan di Korea, terutama bagaimana guru menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, aktif, dan membuat siswa terlibat dalam proses belajar,” ujarnya, Sabtu (19/9/2026).
Selama berada di Korea, Hikmah ingin melihat lebih dekat kehidupan belajar siswa sehari-hari. Mulai dari cara guru mengajar, pola interaksi antarsiswa, hingga bagaimana suasana belajar dibangun agar siswa aktif dan mampu bekerja sama.
Perhatian khususnya tertuju pada pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Coding dan artificial intelligence (AI) menjadi beberapa hal yang ingin dipelajarinya secara langsung. Bukan hanya melihat teknologi yang digunakan di sekolah, tetapi memahami bagaimana guru memanfaatkannya agar benar-benar membantu siswa dalam proses belajar.
Bagi Hikmah, teknologi bukan tujuan akhir dalam pembelajaran. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan secara tepat untuk membuat siswa lebih aktif, kreatif, dan terlibat dalam pembelajaran.
Karena itu, pengalaman dari Korea nantinya tidak akan diterapkan secara mentah di SDN 006 Sebatik Tengah.
Hikmah menyadari kondisi sekolah di Indonesia, khususnya di wilayah perbatasan, memiliki karakteristik yang berbeda dengan sekolah di Korea. Ia memilih mengambil praktik baik yang sederhana dan memungkinkan disesuaikan dengan kondisi siswa di sekolahnya.
“Saya ingin mengambil hal-hal yang sesuai dengan kondisi siswa di Indonesia, terutama dalam menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, kolaboratif, dan mendorong siswa untuk berpikir kritis,” katanya.
Sebelum berangkat ke Korea, Hikmah tidak hanya mempersiapkan administrasi dan dokumen perjalanan. Ia juga mulai mempelajari bahasa Korea, terutama ungkapan sederhana yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan sekolah.
Pengetahuan mengenai budaya Korea, sistem pendidikan, kebiasaan di sekolah hingga makanan turut dipelajarinya.
Sebagai seorang Muslim, Hikmah juga mempersiapkan diri mengenai berbagai hal yang perlu diperhatikan selama tinggal di Korea.
Namun, ada satu persiapan yang menurutnya tidak kalah penting, yakni kesiapan mental. Tinggal dan belajar di negara lain selama tiga bulan membuatnya harus siap menghadapi lingkungan dan budaya yang berbeda.
“Bagi saya, persiapan yang paling penting adalah membuka diri untuk belajar, beradaptasi, dan menghargai budaya yang berbeda,” tuturnya.
Di sisi lain, Hikmah juga membawa sesuatu dari Indonesia. Ia mempersiapkan materi mengenai budaya dan pengalaman pendidikan dari daerah asalnya, Kalimantan Utara, untuk dibagikan selama mengikuti program.
Dengan begitu, pertukaran guru tidak hanya menjadi ruang bagi Hikmah untuk belajar dari Korea, tetapi juga kesempatan memperkenalkan Indonesia dan Kaltara kepada peserta maupun lingkungan pendidikan di sana.
Selama tiga bulan mengikuti program hingga 21 November, Hikmah berharap dapat mengumpulkan sebanyak mungkin pengalaman yang relevan untuk dibawa kembali ke Sebatik. Ia ingin pengalaman tersebut tidak berhenti pada dirinya.
Setelah kembali ke sekolah, Hikmah berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada rekan-rekan guru dan mengadaptasi praktik yang sesuai ke dalam proses pembelajaran.
Beberapa hal seperti coding, AI, Sustainable Development Goals (SDGs), dan Global Citizenship Education (GCED) diharapkannya dapat dikembangkan menjadi kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa.
“Saya ingin apa yang saya pelajari selama di Korea bisa saya bagikan kepada rekan-rekan guru dan diterapkan dalam pembelajaran di sekolah,” katanya.

Bagi Hikmah, menjadi bagian dari program pertukaran guru juga berarti membuka kesempatan untuk membangun hubungan dan bertukar pengalaman dengan pendidik dari negara lain.
Ia berharap pengalaman tersebut membuatnya menjadi guru yang lebih terbuka terhadap hal-hal baru, kreatif, serta berani mencoba pendekatan pembelajaran yang berbeda.
Kepada rekan-rekan guru yang ingin mengikuti program serupa, Hikmah berpesan agar tidak ragu mencoba.
Menurutnya, kesempatan belajar ke luar negeri tidak harus dimulai dengan rasa percaya diri yang sempurna. Yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba, mempersiapkan diri, dan keluar dari zona nyaman.
“Jangan takut untuk mencoba dan jangan merasa bahwa kesempatan seperti ini hanya untuk orang-orang tertentu. Kalau ada kesempatan, beranilah mendaftar dan mencoba,” ujarnya.
Bagi Hikmah, perjalanan ke Korea bukan sekadar tentang pergi jauh dari Sebatik. Ia membawa nama sekolah dan daerah perbatasan, belajar dari sistem pendidikan yang berbeda, lalu berharap bisa kembali dengan gagasan yang bermanfaat bagi siswa.
“Jangan hanya berkata ‘saya ingin’, tetapi beranilah berkata ‘saya akan mencoba’. Karena kita tidak pernah tahu sejauh mana langkah kecil itu bisa membawa kita,” pungkasnya.







Discussion about this post