SEBATIK TIMUR, ALINEA62 — Dari cucu hingga nenek, mereka berdiri dalam satu barisan mengikuti upacara bendera di Teras Masjid Islahul Ummah, Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Di salah satu titik utama Pulau Sebatik, wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung sederhana. Tidak ada fasilitas yang berlebihan. Namun, dari tempat sederhana itu, peserta dari berbagai generasi berkumpul dalam satu upacara.
Kegiatan tersebut merupakan Tasyakuran HUT RI ke-81 yang diselenggarakan Yayasan Muslih Center Kaltara, dengan rangkaian Upacara Bendera Lintas Generasi dan Pelestarian Tradisi Nusantara.
Peserta upacara berasal dari berbagai kelompok pendidikan dan pembinaan di lingkungan yayasan, mulai dari PAUD Islam Al-Hiro, SD Islam Al-Hiro, hingga TPQ Al-Hiro. Pendidikan nonformal melalui TPQ tersebut membina peserta mulai usia dini, usia dewasa termasuk ibu-ibu, hingga kelompok usia lansia.
Para guru PAUD dan SD, pendidik TPQ, unsur pengurus yayasan, serta Ketua DKM Islahul Ummah turut mengikuti kegiatan.
Cucu dan Nenek dalam Satu Barisan
Salah satu pemandangan yang menarik adalah hadirnya beberapa pasangan cucu dan nenek dalam satu barisan upacara.
Khalisa, peserta termuda yang berusia di atas lima tahun, mengikuti upacara bersama neneknya, Hj. Intan, yang berusia di atas 50 tahun.
Hal serupa terlihat pada Rama bersama neneknya, Baiyyah, serta Aca/Ola bersama neneknya, Hj. Zam-Zam.
Mereka mengikuti rangkaian upacara bersama peserta lainnya, dari usia dini hingga lansia.
Pemandangan itu menjadi gambaran sederhana tentang pertemuan antargenerasi. Anak-anak yang masih belajar mengenal makna Merah Putih berdiri bersama generasi yang telah melewati puluhan tahun perjalanan kehidupan.Di satu barisan, cucu dan nenek mengikuti upacara yang sama.
Sederhana di Teras Masjid
Upacara dilaksanakan secara indoor di Teras Masjid Islahul Ummah. Kondisi cuaca yang terik menjadi pertimbangan utama, terutama karena peserta melibatkan anak-anak PAUD dan warga lansia yang membutuhkan kondisi yang lebih aman dan nyaman.
Dengan fasilitas yang sederhana dan kondisi yang ada, upacara tetap berlangsung tertib dan khidmat.
Bagi Yayasan Muslih Center, keterbatasan fasilitas tidak menjadi alasan untuk mengurangi rasa syukur atas kemerdekaan. Dari sebuah teras masjid di wilayah perbatasan, Merah Putih tetap dikibarkan dan dihormati bersama.
Pelaksanaan upacara mendapat bimbingan dari Satgas Pamtas (Pengamanan Perbatasan) TNI Tanjung Aru.
Sejumlah peserta juga dipercaya mengambil bagian sebagai petugas upacara. Dafa, siswa SD Islam Al-Hiro, menjadi pemimpin upacara.
Dr. Wahyudi, S.Pd., M.Si.(Han.), Ketua Yayasan Muslih Center Kaltara, bertindak sebagai pembina upacara.
Pembacaan teks Proklamasi dilakukan oleh Ardi Syarif, S.T., Sekretaris Yayasan Muslih Center. Sementara doa dipimpin Bustan, Ketua DKM Islahul Ummah sekaligus Imam Masjid Islahul Ummah.
Bersyukur atas Nikmat Kemerdekaan
Dalam pesannya sebagai pembina upacara, Wahyudi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari tasyakuran dan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, bersyukur atas kemerdekaan bukan berarti menutup mata terhadap berbagai kelemahan dan kekurangan yang masih dimiliki bangsa. “Kita bersyukur atas nikmat kemerdekaan Indonesia. Tentu negeri ini masih memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan. Namun, kemerdekaan adalah nikmat besar yang patut kita syukuri dan kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat,” ujar Wahyudi.
Menurut Wahyudi, berada di wilayah perbatasan memberikan tanggung jawab tersendiri bagi lembaga pendidikan untuk menanamkan kecintaan kepada bangsa sejak dini.
Yayasan Muslih Center, kata dia, memiliki tekad untuk ikut mencetak generasi Qurani yang cinta tanah air.
“Pembiasaan Al-Qur’an dan cinta tanah air sejak usia dini hingga usia lansia menjadi tekad lembaga ini. Kami ingin pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, tetapi juga generasi yang mencintai tanah airnya,” kata Wahyudi.
Ia menambahkan, pendidikan tidak cukup hanya membangun kemampuan akademik. Anak-anak juga perlu memiliki akar keagamaan, karakter kebangsaan, dan pemahaman terhadap identitas budaya di lingkungan mereka.
Al-Qur’an dan Kebangsaan
Semangat tersebut kemudian dilanjutkan melalui Pelestarian Tradisi Nusantara, antara lain dengan lomba masakan tradisional dan permainan tradisional.
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Anak-anak diperkenalkan kembali pada permainan dan masakan tradisional, sementara orang dewasa dan lansia memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada generasi yang lebih muda.
Bagi Yayasan Muslih Center, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Pembiasaan Al-Qur’an, kecintaan kepada tanah air, dan pengenalan tradisi dilakukan sebagai bagian dari proses pendidikan yang berlangsung lintas usia.
Mulai dari PAUD, SD, TPQ usia dini, TPQ dewasa hingga TPQ lansia, seluruhnya berada dalam satu lingkungan pembinaan.
Di Desa Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik, yang berada di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia, peringatan kemerdekaan itu berlangsung dalam kesederhanaan.
Sebuah teras masjid menjadi tempat berkumpulnya anak-anak, guru, orang dewasa, lansia, pengurus yayasan, tokoh masjid, dan unsur pertahanan negara.
Tidak mewah, tetapi penuh makna
Sebab di tempat sederhana itu, generasi yang berbeda dipertemukan oleh satu bendera. Dari cucu hingga nenek, mereka berdiri dalam satu barisan.
Dari usia dini hingga lansia, mereka mengikuti satu upacara. Dan dari ujung negeri Pulau Sebatik, mereka merayakan kemerdekaan dengan cara yang sederhana: bersyukur dan menanamkan kecintaan kepada Indonesia dari generasi ke generasi.













Discussion about this post