TARAKAN, ALINEA62 – Musim durian selalu membawa cerita menarik. Di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) seorang pedagang durian lokal mampu meraup omzet hingga ratusan juta rupiah per hari hanya dari berjualan buah musiman. Jumlah itu bahkan disebut-sebut jauh melampaui gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Adalah Rian, pria kelahiran Tarakan tahun 1993, yang sudah puluhan tahun bergelut dengan dunia jual beli durian. Ia mengelola lapak durian bernama Durian Super 99 di Jalan Jenderal Sudirman. Selain itu, Rian juga membuka lapak kedua di kawasan Beringin.
Rian mengaku mulai berjualan durian sejak 2005. Usaha ini bukan hal baru bagi keluarganya. Jualan buah, khususnya durian, sudah menjadi mata pencaharian turun-temurun.
“Kalau jualan buah ini memang dari keluarga. Dari nenek, ke bapak, lalu ke saya,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Durian yang dijual Rian merupakan durian lokal hutan, yang didatangkan dari berbagai daerah, terutama Tanjung Selor. Durian tersebut dibeli dari langganan, lalu dijual kembali di Tarakan.
Dalam sehari, penjualan durian di dua lapaknya bisa mencapai ribuan buah. Jika dihitung kasar, harga durian termurah di lapaknya dibanderol Rp 20 ribu per buah, sementara yang terbesar bisa mencapai Rp 100 ribu.
“Kalau dihitung total, bisa sampai dua ribuan buah sehari,” kata Rian.
Dengan penjualan sebanyak itu, omzet harian yang dikantongi Rian bisa tembus Rp 100 juta per hari saat puncak musim. “Harga paling murah Rp 20 ribu dikalikan seribu saja sudah Rp 20 juta. Itu baru yang kecil, belum yang besar,” ucapnya.
Namun, Rian menegaskan angka tersebut masih omzet kotor. Dari pendapatan itu, ia harus mengeluarkan biaya untuk membeli durian, menggaji 12 karyawan, hingga kebutuhan operasional lainnya.
Ia juga menegaskan, usaha durian tersebut tidak berlangsung sepanjang tahun. Penjualan durian bersifat musiman dan umumnya hanya berjalan sekitar dua bulan, mulai Desember hingga menjelang awal Ramadan.
Meski begitu, hasil berjualan durian selama bertahun-tahun telah mengubah hidupnya. Dari usaha tersebut, Rian kini telah memiliki rumah, mobil, hingga rumah sewa.
“Alhamdulillah, disyukuri saja. Dari durian ini bisa punya rumah, mobil, dan kontrakan,” ujarnya.
Di luar musim durian, Rian tetap berjualan buah, seperti apel, semangka, hingga buah impor lainnya untuk menjaga roda usaha tetap berjalan.
Meski terlihat menggiurkan, Rian mengingatkan bahwa bisnis durian bukan usaha instan. Modal besar, risiko buah busuk, hingga sepinya pembeli menjadi tantangan tersendiri.
“Kalau mau coba jual durian, harus tekun. Modalnya besar dan risikonya juga besar,” pesannya.













Discussion about this post