JAKARTA, ALINEA62 – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada awal Ramadan menjadi perhatian publik. Menyikapi berbagai sorotan tersebut, pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh agar program tetap berjalan sesuai standar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan, evaluasi total mencakup aspek kemasan, komposisi menu, hingga transparansi perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG).
“Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, serta transparan dari sisi penggunaan anggaran. Evaluasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik,” ujar Dadan dalam keterangannya, Rabu (25/2/2026).
Salah satu perhatian utama adalah kemasan makanan. BGN meminta seluruh mitra tidak lagi menggunakan kantong plastik sederhana dalam pendistribusian.
“Harus ditempatkan dalam wadah yang lebih representatif, higienis, dan mampu menjaga kualitas makanan hingga diterima oleh para penerima manfaat,” tegasnya.
Selain kemasan, komposisi bahan pangan juga disorot. Menu MBG diminta disesuaikan dengan pagu bahan baku yang telah ditetapkan. Salah satu contoh, kacang digantikan dengan telur karena dinilai memiliki citra protein yang lebih baik dan lebih mudah diterima masyarakat.
“Karena itu, mitra diminta menyesuaikan komposisi menu dengan mengganti kacang menjadi telur tanpa mengurangi nilai gizi,” jelasnya.
Untuk pagu harga bahan baku, balita hingga siswa SD kelas 3 ditetapkan sebesar Rp 8.000 per porsi, sedangkan kelompok lainnya Rp 10.000. Namun, angka tersebut bisa berbeda menyesuaikan indeks kemahalan daerah dan bersifat at cost. Karena itu, BGN meminta penjelasan terbuka kepada publik terkait komponen harga dan perhitungan AKG di setiap menu.
Dadan memastikan setiap SPPG menyusun rincian transparan terkait AKG dan harga masing-masing bahan pangan. Ia menegaskan tidak boleh ada kompromi terhadap kualitas.
“Prinsipnya sederhana: makanan harus aman, bergizi, dan sesuai pagu. Jika ada bahan yang tidak layak, lebih baik diganti daripada dipaksakan. Ini bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat,” katanya.
Sebagai penguatan standar keamanan pangan selama Ramadan, setiap SPPG juga diminta mulai melakukan pengadaan vacuum sealer agar makanan lebih awet, higienis, dan tetap layak konsumsi saat didistribusikan.
“Jika ditemukan bahan yang tidak layak, distribusi dapat ditunda dan diinformasikan untuk diganti pada hari berikutnya. Kebijakan ini diambil untuk memastikan keamanan dan kesehatan penerima manfaat tetap menjadi prioritas utama,” pungkasnya.













Discussion about this post