TARAKAN, ALINEA62– Pendakwah nasional Ustaz Hanan Attaki mengajak masyarakat Tarakan meneladani sosok Uwais Al-Qarni, figur yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai hamba yang tidak masyhur di bumi, namun namanya harum di langit.
Pesan itu disampaikan saat ia mengisi tabligh Ramadan di Pesantren Tahfiz Daarul Qur’an Kaltara, Kelurahan Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara, Senin (2/3/2026). Dalam rangkaian agenda tersebut, Hanan juga menjadi imam salat Tarawih di Masjid Daarul Qur’an Kaltara sebelum menyampaikan kajian di hadapan ribuan jemaah.
Dalam ceramahnya, Hanan menyoroti fenomena manusia modern yang kerap mengejar pengakuan dan validasi dari sesama. “Jangan caper sama manusia. Caper sama manusia itu melelahkan, harus terlihat, harus dipuji. Tapi caper sama Allah itu sederhana: perbaiki salat, perbanyak ibadah, luruskan niat,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan hidup, apalagi sampai mengorbankan keikhlasan.
Untuk memperkuat pesannya, Hanan mengangkat kisah Uwais Al-Qarni. Uwais bernama lengkap Uwais bin Amir al-Qarani, berasal dari Qaran, sebuah daerah terpencil di Yaman. Ia tumbuh dalam kondisi serba kekurangan. Ayahnya wafat saat ia masih kecil, sehingga sejak muda ia memikul tanggung jawab merawat ibunya seorang diri.
Uwais bekerja sebagai penggembala kambing, profesi yang sederhana dan jauh dari sorotan. Namun dari kehidupan itulah tumbuh kesabaran, kerendahan hati, dan kedekatan spiritualnya kepada Allah. Ia dikenal sebagai pribadi yang zuhud, tidak mencintai dunia, berbakti kepada ibu, dan menjauhi ketenaran.
Meski hidup di masa Rasulullah SAW, Uwais tidak pernah berjumpa langsung dengan Nabi. Kerinduannya untuk bertemu begitu besar. Ia bahkan pernah melakukan perjalanan menuju Madinah setelah mendapat izin dari ibunya, dengan syarat tidak meninggalkannya terlalu lama. Maklum, ibunya sudah tua dan mengalami gangguan fisik, sehingga Uwais tidak bisa meninggalkannya terlalu lama.
Namun saat tiba di Madinah, Rasulullah sedang tidak berada di tempat. Karena terikat janji kepada ibunya, Uwais memilih kembali ke Yaman tanpa menunggu, sehingga takdir mempertemukannya secara fisik dengan Nabi tak pernah terjadi.
“Bayangkan, rindunya besar, tapi baktinya kepada ibu lebih besar. Dia pulang tanpa bertemu Nabi,” tutur Hanan.
Justru karena ketulusan itu, nama Uwais disebut dalam hadis. Rasulullah SAW menggambarkannya sebagai seorang hamba yang doanya mustajab. Bahkan Nabi berpesan kepada sahabatnya, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, agar mencari Uwais dari rombongan Yaman dan meminta doa darinya.
Dalam berbagai literatur tasawuf, Uwais digambarkan sebagai sosok berkulit gelap, tubuh sederhana, dengan wajah yang selalu tertunduk. Ia sering menyembunyikan amalnya, khawatir terjerumus dalam riya atau bangga diri. Dari hasil menggembala, ia gemar bersedekah kepada fakir miskin, bahkan sering menahan lapar agar orang lain tidak kekurangan.
Hanan menegaskan, kisah Uwais al-Qarni menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, jabatan, atau sorotan publik. Yang menentukan adalah kebersihan hati, keikhlasan niat, dan ketulusan dalam berbakti terutama kepada orang tua.
Terakhir, Ia juga berpesan kepada para santri penghafal Al-Qur’an agar tidak merusak hafalan dengan ambisi popularitas. “Jangan sampai hafalan rusak karena ingin dipuji. Jangan kejar terkenal di dunia, tapi kosong di hadapan Allah. Lebih baik terkenal di langit. Itu lebih aman dan lebih abadi,” pungkasnya.













Discussion about this post