TARAKAN, ALINEA62– Penderita maag kerap merasa waswas saat memasuki bulan Ramadan. Tak sedikit yang khawatir keluhan nyeri ulu hati dan mual akan kambuh ketika harus menahan lapar dan haus seharian.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, pun membagikan sejumlah tips agar maag tidak kambuh saat menjalankan ibadah puasa.
Menurut dr. Devi, penderita maag tetap diperbolehkan berpuasa selama kondisi kesehatannya stabil dan mampu mengatur pola makan dengan baik. “Penderita maag boleh berpuasa, tapi harus memperhatikan pola makan saat sahur dan berbuka. Jangan langsung makan dalam jumlah banyak,” ujarnya, Jumat (28/2/2026).
Ia menjelaskan, saat berbuka sebaiknya dilakukan secara bertahap. Awali dengan air putih atau minuman hangat serta makanan ringan, kemudian beri jeda sebelum menyantap makanan utama. Kebiasaan makan berlebihan dalam satu waktu dapat memicu peningkatan asam lambung.
Selain itu, dr. Devi mengingatkan agar menghindari makanan yang menjadi pemicu kambuhnya maag, seperti makanan pedas, asam, bersantan, serta gorengan berlebihan. Jenis makanan tersebut dapat merangsang produksi asam lambung dan memperparah gejala.
Sahur juga tidak boleh dilewatkan. Ia menyarankan memilih makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serta sayuran agar energi bertahan lebih lama dan lambung tidak kosong terlalu lama. “Cukupi juga kebutuhan cairan saat berbuka hingga sahur, agar tubuh tidak dehidrasi yang bisa memperburuk kondisi lambung,” tambahnya.
Bagi penderita maag yang rutin mengonsumsi obat, dr. Devi menegaskan pentingnya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk menyesuaikan jadwal minum obat selama Ramadan.
“Untuk kebiasaan minum obat maag sebelum sahur, sebaiknya sesuai petunjuk dokter setelah konsultasi. Kondisi tiap orang berbeda,” tegasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan diri jika muncul keluhan berat seperti nyeri ulu hati hebat, mual muntah terus-menerus, atau kondisi tubuh semakin melemah.
Jika itu terjadi, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. “Intinya, kesehatan tetap menjadi prioritas. Dengan pola makan yang tepat dan pengawasan medis bila perlu, insyaallah puasa tetap bisa dijalani dengan nyaman,” pungkasnya.













Discussion about this post