SEBATIK TIMUR, ALINEA62— Di tengah kesederhanaan fasilitas dan sarana yang dimiliki yayasan, semangat membangun umat terus tumbuh. Melalui Masjid Islahul Ummah, Yayasan Muslih Center mengembangkan masjid sebagai pusat pembinaan Al-Qur’an sekaligus ruang kepedulian umat di kawasan perbatasan Sebatik.
Semangat tersebut terlihat dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan launching Tabung Beras Umat, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan dihadiri Camat Sebatik Timur Zainal Abidinsyah, S.E., Kapolsek Sebatik, Wakapolsek Sebatik, perwakilan Danramil Sebatik, tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta penceramah Ust. H. Andi Yaqub, S.Kep., Ketua MUI Sebatik Barat sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Nunukan.
Rangkaian kegiatan diawali penampilan binaan Yayasan Muslih Center, mulai dari PAUD Islam Al Hiro, SD Islam Al Hiro, TPQ Al Hiro hingga kelas lansia mengaji Al Hiro. Penampilan tersebut memperlihatkan pembinaan lintas generasi yang terus dibangun, dari anak usia dini hingga usia lansia, dengan Al-Qur’an sebagai salah satu fondasi utamanya.
Semangat pembinaan tersebut kemudian diwujudkan dalam kepedulian sosial. Melalui Masjid Islahul Ummah, Yayasan Muslih Center resmi meluncurkan Tabung Beras Umat, sebuah gerakan sederhana untuk memastikan masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga hadir membantu memenuhi kebutuhan sosial masyarakat di sekitarnya. Program tersebut diluncurkan dengan disaksikan langsung oleh Camat Sebatik Timur bersama unsur TNI-Polri dan Ketua Yayasan Muslih Center.
“Kami tidak ingin ada jamaah atau masyarakat di sekitar masjid yang kelaparan hanya karena tidak mampu membeli beras,” ujar Ketua Yayasan Muslih Center, Wahyudi.
Menurutnya, Tabung Beras Umat merupakan bentuk sederhana dari semangat berbagi dan gotong royong, agar keberadaan masjid benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Wahyudi mengatakan kesederhanaan sarana bukan alasan untuk berhenti membangun umat. “Kita ingin mencetak peradaban dengan cara yang pelan tetapi pasti, tidak tergesa-gesa tetapi terukur. Kita mulai dari anak usia dini hingga usia lansia,” jelasnya.
Menurut Wahyudi, membangun generasi merupakan pekerjaan panjang yang membutuhkan kesabaran dan kesinambungan. Ia mencontohkan Nabi Ibrahim AS yang menyiapkan fondasi generasi dalam rentang panjang hingga kemudian lahir generasi Rasulullah Muhammad SAW.
“Begitu juga gerakan memperbaiki umat. Ini pekerjaan panjang dan membutuhkan kesabaran. Kita mulai dari usia dini,” ujarnya.
Sementara itu, Ust. H. Andi Yaqub, S.Kep., dalam tausiyahnya mengajak jamaah menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam membangun keluarga, masyarakat hingga negeri secara bertahap dan penuh kesabaran.
Bagi Yayasan Muslih Center, ikhtiar membangun umat tidak harus dimulai dari fasilitas yang besar. Dari masjid yang sederhana, pendidikan terus berjalan; dari kepedulian yang kecil, manfaat diperluas; dan dari generasi yang hari ini dibina, diharapkan lahir generasi yang membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan negeri.
Dari Pulau Sebatik, gerakan tersebut terus dibangun dengan keyakinan bahwa peradaban tidak lahir dalam sehari, tetapi disiapkan melalui pendidikan, keteladanan, kepedulian, dan kesabaran—pelan tetapi pasti, tidak tergesa-gesa tetapi terukur.













Discussion about this post