TARAKAN, ALINEA62– Operasional tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan disetop sementara. Kebijakan tersebut diambil setelah muncul keluhan dari penerima manfaat terkait menu makanan dan pengemasannya yang sempat viral di masyarakat. Tiga dapur SPPG yang terdampak penghentian operasional berada di wilayah Juata Laut, Kampung Empat, dan Karang Anyar.
Kepala SPPG Juata Laut, Maulana Malik Ibrahim, mengatakan sejak operasional dapur dihentikan, banyak penerima manfaat, khususnya siswa di satuan pendidikan, yang menanyakan kapan program MBG kembali disalurkan. Menurutnya, pertanyaan tersebut tidak hanya disampaikan secara langsung, tetapi juga melalui berbagai platform komunikasi seperti WhatsApp hingga media sosial, termasuk Instagram. “Banyak siswa yang bertanya kepada kami kapan dapur MBG kembali beroperasi dan makanan bergizi itu dibagikan lagi,” ujarnya, Senin (9/3/2026).
Maulana menjelaskan, pihaknya saat ini masih menunggu respons dari Badan Gizi Nasional (BGN) pusat terkait izin operasional dapur MBG di wilayahnya. Ia menyebutkan berbagai persyaratan administrasi sebenarnya sudah dipersiapkan, di antaranya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sertifikat halal, sertifikasi chef dari BNSP, hasil uji laik air, dokumentasi foto dan video perbaikan, serta surat pernyataan. “Semua berkas administrasi sudah kami siapkan. Kami berharap dapur SPPG Juata Laut bisa segera kembali beroperasi,” katanya.
Selain para siswa, relawan yang selama ini membantu operasional dapur juga ikut terdampak akibat penghentian sementara tersebut. Di dapur SPPG Juata Laut tercatat ada sekitar 47 relawan yang terdampak.
Sementara itu, Kepala SPPG Kampung Empat, Nella Risqa, menyebutkan sekitar 30 relawan di dapurnya juga mengalami dampak serupa akibat penghentian operasional. Ia menjelaskan SPPG merupakan unit dapur pelaksana program MBG di tingkat daerah yang bertugas menyiapkan dan mendistribusikan makanan bergizi kepada para penerima manfaat.
Sebelumnya, relawan menerima insentif setiap dua minggu sekali atau setelah 12 hari kerja melalui transfer langsung ke rekening masing-masing. “Standar upah relawan sesuai petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional sebesar Rp100 ribu per hari,” jelasnya. Dengan dihentikannya operasional dapur, kata dia, para relawan kini tidak memiliki pemasukan.
Saat ini pihaknya masih melengkapi sejumlah administrasi sambil menunggu keputusan dari pemerintah pusat. Mereka berharap dapur MBG di Tarakan dapat segera kembali beroperasi agar penyaluran makanan bergizi kepada para siswa dan penerima manfaat lainnya bisa kembali berjalan.













Discussion about this post